Belajar Pengelolaan BPP Berbasis IT, Dinas Pertanian Jambi Kunjungi Seyegan

Dinas Pertanian Provinsi Jambi mengadakan pertemuan apresiasi bagi kelembagaan tani/ kelembagaan penyuluhan/ penyuluh/pelaku utama berprestasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa – Rabu, 26-27 November 2019 di Yogyakarta. Rombongan berjumlah 31 orang terdiri dari Kepala Dinas beserta staf Dinas Pertanian Provinsi Jambi serta para juara masing-masing kategori lomba.

Kunjungan ke BPP Seyegan merupakan salah satu rangkaian kegiatan, setelah sebelumnya mengunjungi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY serta BPSDMP DIY. BPP Seyegan dipilih sebagai lokasi kunjungan karena dinilai telah berhasil dalam pengelolaan BPP dan memanfaatkan IT untuk menunjang kinerjanya.

BPP Seyegan memanfaatkan IT sebagai sarana dalam menjalankan tugas BPP yaitu menyebarluaskan informasi teknologi pertanian selain sebagai sarana publikasi kegiatan BPP. Pemanfaat media sosial juga dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi BPP dengan pihak-pihak yang membutuhkan data dan informasi mengenai BPP Seyegan.

Petani Muda Sukses Budidaya Hortikultura dengan Tumpangsari

LAPORAN PELAKSANAAN DEMPLOT

BUDIDAYA HORTIKULTURA DENGAN SISTEM TUMPANG SARI

DI JODAG, SUMBERADI, MLATI

DIBUAT OLEH :

SARASWATI, S.TP

PENYULUH PERTANIAN MLATI

TAHUN 2019 

 

KATA PENGANTAR

 Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT atas berkat dan rahmat- Nya sehingga laporan kegiatan Demplot “Budidaya Hortikultura dengan Sistem Tumpang Sari” dapat diselesaikan dengan baik.

Harapan kami dengan adanya kegiatan Demplot “Budidaya Hortikultura dengan Sistem Tumpang Sari” di Desa Sumberadi dapat menjadi percontohan bagi masyarakat dan dapat meningkatkan keuntungan dan kesejahteraan petani hortikultura.

Kami juga berharap agar pemerintah mendukung segala jenis kegiatan pengembangan usaha tani untuk peningkatan pendapatan petani melalui penerapan sistem tumpang sari pada tanaman hortikultura.

Kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya laporan ini, kami ucapkan banyak terima kasih.

Sleman, 22 November 2019

Penyusun

Saraswati, S.TP

 

DAFTAR ISI

Judul   i
Kata Pengantar   ii
Daftar Isi   iii
Bab I. Pendahuluan   1
  A. Latar Belakang   1
  B. Tujuan   1
Bab II Teknis Kegiatan   2
A. Nama Kegiatan   2
B. Waktu Kegiatan   2
C. Lokasi Kegiatan   2
D. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan   2
  E. Jenis Tanaman   2
Bab III. Rencana Anggaran   3
  A. Biaya Produksi Swadaya Petani   3
  B. Pupuk Organik Subsidi UKB   4
Bab IV. Pelaksanaan Kegiatan   5
  A. Identitas Petani Pelaksana   5
  B. Uraian Kegiatan   5
Bab V. Analisa Usaha Tani   10
  A. Perhitungan Pendapatan   12
  B. Analisis Kelayakan Usaha   13
Bab VI. Pembahasan   14
  A. Trend Pendapatan Bulanan   14
  B. Trend Pendapatan per Komoditas   16
Bab VII. Kesimpulan Saran dan Tindak Lanjut   19
Bab VIII. Penutup   20

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Budidaya tanaman hortikultura selain bertujuan untuk pergiliran tanaman dilahan persawahan, juga untuk mengurangi hama penyakit tanaman. Budidaya dengan sistem ini memberikan keuntungan/ pendapatan yang lebih dibandingkan dengan tanaman padi di lahan persawahan, meskipun konsekuensi  resiko kegagalan lebih tinggi.

Budidaya hortikultura yang dilakukan kebanyakan petani masih banyak ditemukan monoculture (1 jenis tanaman/komoditas), petani belum berani untuk bertanam dengan lebih dari 1 tanaman dalam 1 lahan atau dalam bahasa pertanian disebut sistem tumpang sari. Padahal bila kita mampu mengelola dengan cermat, bertanam dengan sistem tumpang sari selain pendapatan kita meningkat, bila kita mampu memilih tanaman komoditas tumpang sari akan bisa menekan muculnya hama penyakit pada tanaman

Bertanam dengan sistem tumpang sari adalah berbudidaya tanaman (terutama hortikultura/ sayuran) dengan lebih dari 1 macam tanaman/ komoditas dalam 1 lahan pertanian dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Dalam pengelolaan tanaman tumpang sari, komoditas tanaman didahulukan tanaman yang waktu panennya lebih pendek baru disusul dengan komoditas lain yang waktu panennya lebih panjang. Dalam 1 lahan pertanian kita bisa mengoptimalkan dengan 2 – 4 macam jenis komoditas.

Pengelolaan tanaman dengan sistem tumpang sari tidak terlalu rumit. Selama pengolahan tanah, kebutuhan pupuk diperlukan lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan nutrisi  tanaman, tetapi selanjutnya pemupukan bisa diberikan dengan cara pengocoran lewat akar atau penyemprotan lewat daun. Dalam pengendalian hama penyakit, budidaya sistem tumpang sari tidak terlalu repot karena sekali pengendalian hama, akan efektif juga bagi tanaman yang lain. Bila pemilihan tanaman tumpang sari tepat, mampu mengendalikan secara alami karena ada tanaman tertentu yang mampu mengusir hama bagi tanaman lain.

2. Tujuan

Tujuan budidaya hortikultura dengan sistem tumpang sari bertujuan :

  1. Mengenalkan cara budidaya hortikultura menggunakan sistem tumpang sari.
  2. Mengembalikan bahan organik ke lahan sawah melalui penggunaan pupuk organik
  3. Sebagai lahan percontohan budidaya hortikultura dengan sistem tumpang sari dapat menggugah dan memberi harapan kepada petani sekitar untuk bertani lebih baik dan menguntungkan.
  4. Meningkatkan pendapatan petani melalui budidaya hortikultura sistem tumpang sari

 

TEKNIS KEGIATAN

  1. Nama Kegiatan

“Budidaya Hortikultura dengan Sistem Tumpang Sari”

  1. Waktu

Kegiatan UKB dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Oktober 2019

  1. Lokasi

Lahan Bapak Jatmiko, Padukuhan Jodag, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati

  1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Adapun tahapan kegiatan UKB ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengadakan koordinasi dengan pengurus kelompok tani tentang rencana pelaksanaan kegiatan UKB
  2. Penentuan dan penetapan calon lokasi kegiatan
  3. Sosialisasi kegiatan UKB
  4. Pelaksanaan kegiatan UKB
  5. Pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman
  6. Evaluasi kegiatan
  7. Jenis Tanaman
    1. Cabai
    2. Terong
    3. Pepaya
    4. Kencur
    5. Buncis
    6. Sawi
    7. Kacang tanah
  • RENCANA ANGGARAN

Nama Petani                         : Jatmiko

Nama Kelompoktani            : Manunggal

Lokasi                                    : Jodag, Sumberadi, Mlati

Luas Lahan                           : 1000 m2

 SWADAYA PETANI

No. Uraian Satuan Harga (Rp) Jumlah (Rp)
1. Tenaga Kerja
Kekrek/potong jerami 2 HOK 75.000 150.000
Bajak/ Traktor 1 HOK 75.000 150.000
Membuat bedengan s/d tutup mulsa 16 HOK 75.000 1.200.000
Penanaman/ Ponjo 3 HOK 75.000 225.000
Pemasangan Ajir, Tali 3 HOK 75.000 225.000
Pemupukan 3 HOK 75.000 225.000
Pengendalian OPT 10 HOK 75.000 750.000
Perempelan 2 HOK 75.000 150.000
Panen 15 HOK 75.000 1.125.000
Jumlah 4.200.000
2. Sarana dan Prasarana  
Plastik Mulsa 1 roll 600.000 600.000
Benih Cabe 2000 batang 150 300.000
Ajir/ Lanjaran 2000 batang 400 800.000
Benih Sawi 2 kaleng 75.000 300.000
Bibit Terong 250 batang 200 50.000
Bibit Kacang Tanah 5 kg 25.000 125.000
Bibit Pepaya California 100 batang 2500 250.000
Bibit Kencur 1 kg 100.000 100.000
Bibit Buncis
Jumlah 2.525.000
3. Pupuk
Phonska 1 sak (50 kg) 125.000 125.000
ZA 1 sak (50 kg) 90.000 90.000
TSP 1 sak (50 kg) 125.000 125.000
Kapur Dolomit 10 sak 6000 60.000
Furadan 1 kg 50.000 50.000
NPK Mutiara (Kocor) 10 kg 10.000 100.000
Ultradap + MKP 4 kg 30.000 120.000
EM4 2 botol 15.000 30.000
Jumlah 700.000
4. Pestisida
Demolish 2 botol 100.000 200.000
Samite 2 botol 75.000 150.000
Buldok 2 botol 50.000 100.000
Petrogenol 2 botol 50.000 100.000
Hopsanol 2 botol 65.000 130.000
Antracol 2 kg 100.000 200.000
Jumlah 880.000
  TOTAL BIAYA SWADAYA PETANI 8.305.000
  1. SUBSIDI DANA UKB
No. Kegiatan Satuan Harga (Rp) Jumlah (Rp)
1 Pupuk Organik 1.750 kg 1000.00,- 1.750.000,-
Jumlah 1.750.000,-

 

PELAKSANAAN KEGIATAN

    1. Identitas Petani Pelaksana:

Nama Petani                         : Sujatmiko

NIK                                         : 3404061804780007

TTL                                        : Sleman, 18 April 2019

Akun Media Sosial               : Sujad Miko (Facebook)

Pekerjaan                              : Karyawan Swasta (PT.Tirta Investama/AQUA)

Hari Kerja                              : Senin – Sabtu

Jam Kerja                              : 08.00 – 16.00

Jumlah anggota keluarga   : 5 orang

Organisasi                            : –    Anggota Kelompok Tani Manunggal, Jodag

  • Bendahara Kelompok Ternak Mulyo Andini, Jodag
  • Ketua Paguyuban Kesenian Jathilan Jodag

Nama Kelompoktani                        : Manunggal

Lokasi                                    : Jodag, Sumberadi, Mlati

 Luas Lahan                           : 400 m2

 

Uraian Pelaksanaan

  1. Pembibitan

Bibit cabai, pepaya dan terong dibeli dari toko bibit. Bibit yang digunakan menggunakan polybag, dengan media kompos. Bibit cabai dan terong siap tanam setelah berdaun 3-4. Untuk bibit tanaman buncis, sawi, kacang tanah berupa  biji yang dibeli dari toko pertanian. Untuk bibit kencur membeli di pasar.

2. Persiapan Lahan

Persiapan lahan dimulai dengan pembersihan lahan dari bekas tanaman sebelumnya. Kemudian dilakukan bajak garu dan dilanjutkan dengan pembedengan. Ukuran bedengan adalah lebar 110-120 cm, panjang 12 m atau menyesuaikan petakan sawah, tinggi 30 cm, jarak antar bedengan 60 – 70 cm.

Selanjutnya, penebaran pupuk kompos sebanyak 2000 kg, pupuk NPK berupa ZA 30 kg, TSP 25 kg dan NPK 40 kg dan dolomit 8 kg. lalu diaduk di atas bedengan, sekaligus penyempurnaan bedengan. Setelah bedengan terbentuk sempurna, dilanjutkan pemasangan mulsa plastik hitam perak, dengan posisi warna perak pada bagian atas. Pemasangan mulsa dilakukan pada siang hari.

3. Penanaman

Tanaman yang pertama di tanam adalah cabai dan papaya. Sebelum penanaman dilakukan seleksi bibit. Hanya bibit yang normal, sehat, dan seragam pertumbuhannya yang ditanam. Bibit cabai siap tanam setelah berdaun 4-5 helai. Jarak tanam cabai adalah 60 x 60 cm. Bibit pepaya ditanam di sepanjang tengah bedengan dengan jarak 60 cm, di titik diagonal antara kiri kanan tanaman cabe.

Tanaman sawi baso, terong, kacang tanah, ditanam selisih masing-masing jarak waktu antar tanaman satu pekan selanjutnya. Khusu untuk tanaman buncis dilahan ditanam setelah tanaman cabai tidak terlalu produktif atau grantingan.

No Komoditas Tanggal Tanam Jumlah Benih Harga Satuan (Rp) Biaya Benih (Rp)
1.      Cabai 14-04-19 800 btg 150 120.000
2.      Pepaya 14-04-19 50 btg 2500 125.000
3.      Kencur 14-04-19 1kg 100.000 100.000
4.      Sawi Baso 21-04-19 200 gr/ 2 klg 75.000 150.000
5.      Terong 28-04-19 100 btg 200 20.000
6.      Kacang Tanah 28-04-19 2 kg 25.000 50.000
7.      Sawi Baso II 09-06-19 200 gr/ 2 klg 75.000 150.000
8.      Buncis 25-08-19 500 gr 90.000 45.000

Tanaman tepi atau barrier ditanami buncis,mentimun,bunga matahari dan bunga kenikir. Tanaman refugia yang dipilih tidak hanya menghasilkan bunga tetapi juga menghasilkan produk buncis dan mentimun yang dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga.

  1. Pemeliharaan
  2. Penyulaman

Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati, selambat lambatnya 7 hari.

  1. Pemasangan turus dan penalian

Prinsip pemasangan turus/lanjaran adalah semakin awal semakin baik. Turus untuk tanaman cabai dipasang agak miring dengan tujuan agar tajuk tanaman cabai, nantinya tidak rimbun/ daun dan buah berdesakan, sehingga menyebabkan kelembaban tinggi, yang akhirnya akan mendatangkan OPT. Antar turus tanaman cabai ini selanjutnya diberi tali rafia untuk media rambat tanaman buncis.

  1. Penyiangan

Prinsip penyiangan dilakukan sebelum gulma berbunga. Penyiangan dilakukan hanya menggunakan sabit atau gulma hanya dipotong, tidak dicangkul, dengan pertimbangan, pada saat itu cuaca panas dan kering, sehingga keberadaan gulma bisa membantu mengurangi penguapan permukaan dan membantu menjaga kelembaban. Di samping itu, bila memakai cangkul, dikhawatirkan akan memotong akar tanaman melon.

  1. Pemupukan Susulan

Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 5 kali kocor pada sekitar lubang tanam. Pupuk yang digunakan untuk setiap kali pengocoran adalah NPK 3 kg, 1 kg MKP dan 1 kg Ultradap dilarutkan dalam air. Pengocoran dilakukan pada saat hari libur.

  1. Pengairan

Pada awal penanaman, pengairan masih sistem leb karena air irigasi masih mencukupi. Namun, setelah tanaman berumur 2 bulan, air pengairan sudah mulai berkurang untuk mengairi sawah. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak optimal misalnya tanaman kencur mati dan tanaman papaya kurang maksimal.

  1. Pemangkasan, seleksi buah

Tanaman cabai

Pemangkasan cabang liar di bawah cabang pertama, dan buah pertama  dipangkas, dengan tujuan agar unsur hara bermanfaat untuk produksi dan pembentukan tajuk pohon.

  1. Pengendalian OPT

Pengendalian OPT dilakukan sistem pengamatan, di mana hanya dilakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia bila ada serangan.

Karena terdapat 6 komoditas yang ditanam di satu lahan maka panen dapat dilakukan berkali-kali sesuai dengan masa panennya. Dibawah ini urutan panen di lahan demplot UKB:

 

 

No Komoditas Umur Panen (hst) Tanggal mulai panen Jumlah Panen Hasil Panen (kg) Harga Panen (Rp) Pendapatan (Rp)
1 Sawi Baso I 25 22-05-19 1 x 300 2500 750.000
2 Kacang Tanah 60 28-06-19 1 x 10 13.000 130.000
3 Terong 65 03-07-19 7 x 135,5 4000 – 9000 537.000
4 Sawi Baso II 30 09-07-19 1x 180 2500 450.000
5 Cabai 90 13-07-19 17x 281 15000-63000 13.953.500
6 Buncis 60 25-10-19 7 x 126 4000 – 9000 1.075.000
Jumlah 16.895.500

Dengan bermodal kepercayaan, petani pelaksana sudah memiliki pembeli langganan yang akan mengambil sendiri sayuran dilahan kemudian menyampaikan hasil panen, sedangkan uang hasil panen diserahkan jika diminta atau sempat bertemu.

Komoditas yang pertama dipanen adalah sawi baso dengan hasil 300 kg seharga Rp. 750.000,- pada usia 25 hst atau pada tanggal . Uang yang diperoleh dari penjualan sawi dapat digunakan untuk pembelian pupuk susulan, pestisida dan bibit sawi tahap II.

Pada usia 60 hst, kacangtanah siap panen. Hasil yang diperoleh sebanyak 10 kg dengan harga Rp.13.000 per kg sehingga pendapatannya adalah Rp. 130.000,-.

Cabai keriting dipetik mulai umur sekitar 90 HST, dan dipanen setiap 3-4 hari, tergantung harga, bila harga tinggi panen dilakukan 2 hari sekali.

Tabel. Hasil panen cabe keriting

No Tanggal Petik Hasil Panen (kg) Harga Satuan Saat Petik (Rp) Total Pendapatan per Petik (Rp)
1 13-07-19 3 46.000 138.000
2 15-07-19 9 55.000 500.000
3 17-07-19 18 48.000 864.000
4 20-07-19 34 45.000 1.530.000
5 22-07-19 39 45.000 1.755.000
6 25-07-19 47 46.000 2.162.000
7 28-07-19 35 62.000 2.170.000
8 31-07-19 27 63.000 1.710.000
9 03-08-19 24 55.000 1.320.000
10 06-08-19 9 45.000 405.000
11 09-08-19 13 50.000 650.000
12 12-08-19 6 45.000 270.000
13 15-08-19 5 47.000 235.000
14 18-08-19 2,5 35.000 77.000
15 21-08-19 4 15.000 60.000
16 24-08-19 2,5 15.000 47.500
17 27-08-19 3 20.000 60.000
Total 13.953.500

Komoditas terong dipanen mulai tanggal 3 Juli 2019 sebanyak 3,5 kg. Periode panen selama 1,5 bulan dengan total bobot 135,5 kg dan pendapatan sebanyak Rp. 537.000,-

Tabel. Hasil panen Terong

No Tanggal Petik Hasil Panen (kg) Harga Satuan Saat Petik (Rp) Total Pendapatan per Petik (Rp)
1 03-07-19 3,5 5.000 17.500
2 13-07-19 15 6.000 90.000
3 20-07-19 50 3.000 150.000
4 27-07-19 35 2.500 87.500
5 04-08-19 17 2.500 42.000
6 11-08-19 10 2.500 25.000
7 18-08-19 5 2.500 12.500
Total 537.000

Buncis merupakan tanaman tumpang gilir setelah tanaman cabai tidak lagi produktif dan sambil menunggu tanaman papaya bisa menghasilkan buah. Panen pertama buncis pada 25 Oktober 2019 sampai panen terakhir pada 13 November 2019. Total panen buncis adalah 126 kg dengan pendapatan Rp. 1.075.000,-

Tabel. Hasil panen Buncis

No Tanggal Petik Hasil Panen (kg) Harga Satuan Saat Petik (Rp) Total Pendapatan per Petik (Rp)
1 25-10-19 7 4.000 28.000
2 28-10-19 8 6.000 48.000
3 01-11-19 30 9.000 270.000
4 04-11-19 41 9.000 369.000
5 07-11-19 25 9.000 225.000
6 10-11-19 10 9.000 90.000
7 13-11-19 5 9.000 45.000
Total 126 1.075.000

 ANALISA USAHA TANI

Analisa usaha tani penting dilakukan oleh seorang produsen guna menghindari kerugian dan untuk pengembangan serta kelangsungan usaha. Secara finansial kelayakan usaha dapat dianalisis dengan menggunakan beberapa indikator pendekatan atau alat analisis, dalam kegiatan UKB ini menggunakan  Revenue-Cost ratio (R/C ratio) dan Benefit-Cost ratio (B/C ratio)

  1. B/C ratio, yaitu perbandingan antara keuntungandengan biaya usaha.

B/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukan perbandingan antara Laba Bersih (Benefit = B) dengan Total Biaya (Cost = C).  Dalam batasan besaran nilai B/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.

  1. R/C ratio, yaitu perbandingan antara penerimaandengan biaya usaha.

R/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukan perbandingan antara Penerimaan usaha (Revenue = R) dengan Total Biaya (Cost = C).  Dalam batasan besaran nilai R/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.  Secara garis besar dapat dimengerti bahwa suatu usaha akan mendapatkan keuntungan apabila penerimaan lebih besar dibandingkan dengan biaya usaha.

 BIAYA PRODUKSI SWADAYA PETANI

No. Uraian Satuan Harga (Rp) Jumlah (Rp)
1. Tenaga Kerja
Kekrek/potong jerami 0,8 HOK 75.000 60.000
Bajak/ Traktor 0,4 HOK 75.000 30.000
Membuat bedengan s/d tutup mulsa 6,5 HOK 75.000 487.500
Penanaman/ Ponjo 1,2 HOK 75.000 90.000
Pemasangan Ajir, Tali 1,2 HOK 75.000 90.000
Pemupukan 1,2 HOK 75.000 90.000
Pengendalian OPT 4 HOK 75.000 300.000
Perempelan 0,8 HOK 75.000 60.000
Panen 6 HOK 75.000 450.000
Jumlah 1.207.500
2. Sarana dan Prasarana  
Plastik Mulsa 0,4 roll 600.000 240.000
Benih Cabe 800 batang 150 120.000
Ajir/ Lanjaran 800 batang 400 320.000
Benih Sawi 4 kaleng 75.000 300.000
Bibit Terong 100 batang 200 20.000
Bibit Kacang Tanah 2 kg 25.000 50.000
Bibit Pepaya California 50 batang 2500 125.000
Bibit Kencur 1 kg 100.000 100.000
Bibit Buncis 0,5 kg 90.000 45.000
Jumlah 1.320.000
3. Pupuk
Phonska 40 kg 2.300 92.000
ZA 30 kg 1.400 42.000
TSP 25 kg 3.000 75.000
Kapur Dolomit 8 kg 1200 9.600
Furadan 0,4 kg 50.000 20.000
NPK Mutiara (Kocor) 15 kg 12.500 187.500
Ultradap 5 kg 35.000 175.000
MKP 5 kg 37.000 185.000
EM4 1 botol 15.000 15.000
Jumlah 801.100
4. Pestisida
Demolish 0,8 botol 100.000 80.000
Samite 0,8 botol 75.000 60.000
Buldok 0,8 botol 50.000 40.000
Petrogenol 0,8 botol 50.000 40.000
Hopsanol 0,8 botol 65.000 52.000
Antracol 0,8 kg 100.000 80.000
Jumlah 352.000
  TOTAL BIAYA SWADAYA PETANI 3.680.800

 

  1. BIAYA PUPUK ORGANIK (SUBSIDI DANA UKB)
No. Kegiatan Satuan Harga (Rp) Jumlah (Rp)
1 Pupuk Organik 2000 kg 1000.00,- 2.000.000,-
Jumlah 2.000.000,-

 PENGHITUNGAN PENDAPATAN

 1. Total biaya :

Biaya dikeluarkan

(tenaga kerja + saprodi)

: 1.207.500 + 1.320.000+ 801.100+ 352.000 = Rp.   3.680.800,-
Biaya pupuk organik = Rp.  2.000.000,-
Jumlah     = Rp. 5.680.800,-

 

  1. Nilai total produksi :
No Komoditas Produksi (kg) Harga Satuan / Rentang (Rp) Total (Rp)
1. Sawi Baso I 300 2500 750.000
2. Kacang Tanah 10 13.000 130.000
3. Sawi Baso II 180 2500 450.000
4. Terong 135,5 2500 – 6000 537.000
5. Cabai 281 15.000 – 63.000 13.953.500
6. Buncis 126 4000 – 9000 1.075.000
7. Kencur 0 0 0
8. Pepaya belum belum belum
  Total     16.895.500

   

   III.  Pendapatan bersih :

Pendapatan = Nilai total produksi – Total biaya produksi
= 16.895.500 – 5.680.800
= Rp 11.214.700,-

 

B.   ANALISIS KELAYAKAN USAHA

 

R/C Ratio : Rp. 16.895.500,- = 2,97
  Rp. 5.680.800,-
Keterangan : R/C
a.R/C > 1,3 Layak
b.R/C = 1,3 BEP
c.R/C < 1,3 Tidak layak
Berdasarkan analisis R/C Ratio maka usaha budidaya tanaman hortikultura dengan system tumpangsari dinyatakan layak.

 

B/C Ratio : Rp 11.214.700,- = 1,97
  Rp. 5.680.800,-
Keterangan : R/C
a.  B/C > 0,3 = Layak / Untung
b.  B/C = 0,3 = BEP
c.   B/C < 0,3 = Tidak Layak / Rugi.
Berdasarkan analisis B/C Ratio maka usaha budidaya tanaman hortikultura dengan system tumpangsari dinyatakan layak

Catatan:

Potensi Panen Pepaya:

500 kg x Rp. 3000/kg = Rp. 1.500.000

BAB VI. PEMBAHASAN

Kendala pembangunan pertanian pada desa di wilayah kecamatan Mlati saat ini adalah sempitnya lahan pertanian dan generasi muda yang tidak tertarik ke pertanian karena kecilnya pendapatan petani yang dianggap tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sebagian petani muda berpendapat bahwa pertanian sulit diandalkan sebagai satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Hal itu tercermin dari banyaknya petani muda yang menjadikan petani hanya merupakan usaha sampingan saja. Sebagian petani muda memilih profesi sebagai karyawan dengan gaji dan penghasilan yang pasti. Jumlah kepemilikan lahan petani semakin sempit dan waktu yang bisa digunakan untuk usaha budidaya pertanian hanya disela waktu libur kerja, memerlukan suatu metode berusaha tani yang tidak biasa. Budidaya system tumpangsari merupakan upaya intensifikasi lahan pertanian dan sebagai alternative petani muda dalam mengoptimalkan lahan sempit agar memberi pendapatan maksimal untuk memenuhi kebbutuhan rumah tangga.

Petani pelaksana yang dipilih merupakan petani muda yang juga punya pekerjaan utama di perusahaan swasta dan memiliki sedikit waktu yang dimanfaatkan untuk bertani. Lahan yang digunakan sebagai lokasi demplot juga tidak terlalu luas yaitu hanya 400 m2 saja.

  1. TREND PENDAPATAN BULANAN

Dari hasil panen berbagai komoditas, maka diperoleh data yang tersaji pada table dibawah ini:

            Tabel. Pendapatan per Bulan

No Nama Bulan Komoditas yang dipanen (kg) Produksi (kg) Harga Satuan (Rp) Pendapatan (Rp)
1 Mei 1. Sawi Baso 300 2500 750.000
2 Juni 1. Kacang Tanah 10 13.000 130.000
3 Juli 1. Terong 103,5   345.000
    2. Sawi Baso 180 2500 450.000
    3. Cabai 212   10.829.000
            11.624.000
4 Agustus 1. Cabai 69   3.124.500
    2. Terong 32 2500 79.500
            3.204.000
5 September
6 Oktober 1. Buncis 15   76.000
7 November 1. Buncis 111 9000 999.000
  Total         16.895.500

Dari tabel diatas dapet dilihat bahwa panen pertama pada bulan Mei 2019 yaitu komoditas sawi baso dengan pendapatan sebesar Rp. 750.000,- kemudian pada bulan Juni panen kacang tanah sebanyak 10 kg dengan pendapatan Rp. 130.000-.

Pendapatan tertinggi diperoleh pada bulan Juli sebesar Rp. 11.624.000 berasal dari panen komoditas terong, sawi baso dan cabai. Pada bulan Agustus tercatat cabai dan terong masih berproduksi dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 3.204.000,-

Bulan September pendapatan petani yang diharapkan dari pepaya ternyata belum bisa produktif dikarenakan musim kering yang menghambat pertumbuhan pepaya. Tanaman cabai dan tanaman terong sudah habis, dan tidak ada tanaman susulan lainnya. Untuk itu mungkin diperlukan pengaturan jenis tanaman lainnya atau pengaturan waktu tanam komoditas agar setiap bulan  tetap ada komoditas yang bisa dipanen dan memberi pendapatan.

Bulan Oktober tanaman buncis menyumbangkan pendapatan Rp. 76.000,- dan pada November sebesar Rp. 999.000,-. Harga buncis yang membaik pada bulan November membantu mendongkrak pendapatan dari komoditas buncis.

Grafik. Pendapatan per Bulan

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pendapatan efektif diperoleh pada bulan Mei-Agustus 2019 yaitu sebesar Rp. 15.708.000,- selama periode 5 bulan sejak tanam. Atau pendapatan per bulannya sekitar Rp. 3.141.600 atau keuntungan Rp 10.027.200,- selama 5 bulan atau keuntungan per bulan Rp. 2.005.440,-.

Agar pada bulan September petani tetap bisa memiliki penghasilan diupayakan menanam komoditas berumur pendek yang bisa berdampingan dengan tanaman cabai dan terong, misalnya bawang merah mulai ditanam di tepi parit antar bedengan pada bulan Juli. Atau bayam cabut atau kangkong atau tanaman lain yang bisa panen usia 25-30 hst ditanam pada bulan Agustus, sehingga tidak tertutup tajuk tanaman cabai.

  1. TREND PENDAPATAN PER KOMODITAS

Berbagai komoditas yang ditanam di lahan demplot merupakan komoditas yang diharapkan bisa produktif dan memberikan pendapatan yang baik bagi petani pelaksana. Meskipun dalam perjalananya ada dua dari tujuh komoditas yang tidak produktif hingga laporan ini disusun.

Grafik. Pendapatan per Komoditas

  1. Sawi Baso

Pendapatan yang diperoleh dari budidaya sawi baso cukup lumayan, waktu panen yang singkat dan harga yang stabil bias dijadikan andalan petani dalam masa penantian menunggu panen komoditas cabai. Hasil panen sawi baso dapat digunakan untuk pembelian pestisida dan saprodi lainnya.

  1. Terong

Meskipun hanya tanaman sela, dengan modal bibit hanya Rp. 20.000 saja tanaman ini  bisa menghasilkan pendapatan Rp.537.000,-

  1. Kacang Tanah

Jika dilihat dari angka pendapatan yang dihasilkan dari budidaya kacang tanah memang tidak terlalu menarik, akan tetapi jika dilihat manfaat menanam kacang tanah pada kesuburan tanah, tentunya adanya tanaman ini sangat penting sebagai salah satu penyedia unsur N dalam tanah. Bintil akar tanaman kacang-kacangan akan menangkan N bebas di udara dan tentunya dengan meningkatnya kandungan N tanah, kondisi tamanan bisa lebih subur.

  1. Cabai

Tanaman ini merupakan komoditas utama yang diandalkan dapat memberikan pendapatan yang tinggi bagi petani. Dan kami bersyukur harga cabai pada musim ini sangat bersahabat dan menguntungkan petani. Dengan kisaran harga Rp. 15.000 s.d Rp. 63.000,petani dapat meraih keuntungan dan pendapatan yang besar. Penentuan waktu tanam pada bulan April sehingga panen pada Juli 2019 juga merupakan pilihan dengan mempertimbangkan pranata mangsa dan ilmu titen petani pelaksana.

  1. Buncis

Meskipun awalnya tidak  masuk dalam perencanaan, tetapi petani berinisiatif untuk menanam buncis. Awalnya buncis merupakan komoditas yang disarankan oleh penyuluh untuk dijadikan tanaman barrier di pematang. Hasil panen buncis sebagai tanaman tepi cukup baik dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan bagi keluarga. Selain buncis, tanaman yang dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga adalah mentimun dan tomat. Oleh karenanya,keuntungan yang diperoleh petani bukan hanya pendapatan berupa uang tetapi juga terpenuhinya kebutuhan sayur rumah tangga. Sedangkan tanaman buncis yang dibudidayakan secara intensif, baru ditanam dilahan setelah tanaman cabai tidak produktif. Buncis ditanam sembari menunggu tanaman papaya bisa berbuah. Meskipun hingga akhir panen buncis, tanaman papaya belum bisa dipanen. Petani sangat tertolong dengan harga buncis yang sangat bagus yaitu Rp. 9000,- pada bulan November.

  1. Kencur

Pada April 2019, harga komoditas kencur dipasar sangat menggiurkan, yaitu Rp. 100.000,- /kg. Oleh karenanya komoditas tersebut ditanam dengan harapan dapat memberi pendapatan yang istimewa. Akan tetapi bibit kencur yang ditanam tidak menunjukan pertumbuhan yang baik, bahkan kekeringan dan mati. Hal tersebut dapat dikarenakan tanaman kencur membutuhkan kelembaban dan air yang cukup untuk pertumbuhannya. Idealnya tanaman kencur ditanam pada awal musim penghujan, agar akar cukup menyerap air untuk pertumbuhan tanaman.

  1. Pepaya

Tanaman pepaya yang dibudidayakan pada system monokultur biasanya sudah berbunga pada usia 3 bulan dan bisa panen pada usia 5 bulan setelah tanam. Akan tetapi tanaman papaya dalam demplot tumpangsari ini terlihat kalah dalam kompetisi penyerapan nutrisi tanaman, sehingga pertumbuhannya terhambat. Selain itu, kekeringan semakin menyulitkan bagi papaya untuk berbunga dan berbuah. Air yang ada dimanfaatkan tanaman untuk bertahan hidup. Pembentukan bakal bunga dan buah terhambat, jikapun terbentuk bunga dan bakal buah biasanya akan gugur. Dengan datangnya hujan pada awal November ini, kami masih menaruh harapan agar papaya dapat tumbuh optimal hingga panen. Potensi hasil panen papaya sebanyak 50 pohon adalah 500 kg dengan harga rata-rata papaya adalah Rp.3000  maka potensi panen papaya mencapai Rp. 1.500.000.

  1. Rencana Tumpang Gilir 800 batang Cabai Rawit

Tumpang gilir sangat efektif mengurangi biaya produksi budidaya pertanian terutama biaya pengolahan tanah, pembuatan bedengan,pemupukan dasar.

 

Dengan menggunakan sistem bertani tumpang sari ini, petani bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal dengan lahan yang sempit. Karena dengan sistem ini, kita bisa panen berkali-kali dalam waktu yang dekat dengan jenis tanaman yang berbeda.

Bertani dengan sistem tumpang sari bisa menghemat biaya pengolahan lahan, pemupukan dan hemat tenaga serta waktu. Keuntungan dari hasil jual bisa didapatkan lebih karena setiap tanaman nilai jualnya berbeda. Menekan resiko kerugian karena dengan sistem bertani ini, hasil jual setiap jenis tanaman saling menguntungkan.

Selain pada tanaman hortikultura, sistem tanam Tumpang sari juga bisa diterapkan pada tanaman perkebunan, dan hampir tidak membutuhkan pemupukan. Karena pupuk yang diberikan pada tanaman semusim juga bisa diserap oleh tanaman perkebunan.

 

BAB VII. KESIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT

  1. KESIMPULAN
  2. Masyarakat dan petani sekitar telah dapat mengenal cara budidaya hortikultura menggunakan sistem tumpang sari.
  3. Salah satu kunci sukses produksi pertanian adalah banyaknya pupuk organic yang diaplikasikan sehingga kebutuhan nutrisi aneka tanaman dapat tercukupi.
  4. Budidaya hortikultura dengan sistem tumpang sari cukup menguntungkan untuk dikembangkan, sangat sesuai untuk petani muda yang punya waktu sedikit dan lahan sempit tetapi hasil bisa tetap optimal.
  5. Berdasarkan analisis kelayakan usaha, budidaya hortikultura dengan system tumpangsari layak untuk dikembangkan.

SARAN

  • Agar dilakukan kajian dan pembelajaran lebih lanjut mengenai system tumpangsari dan tumpang gilir sehingga petani bisa memiliki penghasilan bulanan dengan pengaturan jenis komoditas dan waktu penanaman.
  • Perlu kajian perbandingan antara system monokultur dan polikultur dalam jangka waktu sama dan luasan yang sama.

TINDAK LANJUT

Akan dilaksanakan kegiatan diseminasi teknologi tumpangsari dan tumpang gilir di wilayah binaan/ kelompok lainnya.

BAB VII PENUTUP

Budidaya hortikultura dengan sistem tumpangsari dapat menjadi alternatif metode budidaya. Keberhasilan sistem tumpangsari dapat memberikan harapan bagi petani agar mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Petani tidak terlalu lama menunggu hingga panen tiba. Tanam dan panen dapat diatur sedemikian rupa sehingga masa tunggu petani untuk mendapatkan penghasilan lebih cepat dan bisa kontinyu.

Penghasilan petani yang baik dan yang dapat menopang biaya harian rumah tangga menjadi suatu kebutuhan utama keluarga muda petani. Dengan terjaminnya ekonomi keluarga petani akan dapat menarik minat generasi muda untuk terjun dan mencari penghidupan di bidang pertanian. Karena mendapat bukti bahwa petani bisa sejahtera dan pertanian bisa menjadi andalan sumber pendapatan yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Terwujudnya generasi muda pertanian sangat penting dan mendesak dalam rangka kedaulatan pangan, kelestarian pertanian dan menggapai visi Indonesia Lumbung Pangan Dunia tahun 2045.

Disusun oleh:

PPL

 

Saraswati, S.TP

NIP. 19850104 201706 2 001